Loading...

Selasa, 12 April 2011

Pengembangan Koleksi

Inisiasi 1
Kebijakan Pengembangan Koleksi


Para mahasiswa peserta tutorial online matakuliah Pengembangan Koleksi, pada tutorial 1 ini kita akan membicarakan materi tentang kebijakan pengembangan koleksi.


Beberapa tahun terakhir ini telah terjadi ledakan informasi, karena banyaknya bahan pustaka yang diterbitkan. Oleh karena itu tidak ada satu perpustakaan pun yang dapat memiliki semua bahan pustaka yang dibutuhkan penggunanya. Untuk itu perpustakaan harus menentukan bahan pustaka yang tepat yang paling banyak dibutuhkan oleh penggunanya, supaya pemanfaatan koleksi perpustakaan menjadi optimum. Sementara itu perlu diingat bahwa dana yang tersedia jumlahnya sangat terbatas, disamping itu ketersediaannya kadang-kadang tidak berkesinambungan, maka penggunaan dana harus dilakukan sebaik-baiknya. Dengan demikian sangat diperlukan kebijakan tertulis yang dapat digunakan sebagai pedoman pengembangan koleksi.



Kebijakan Pengembangan Koleksi adalah suatu kebijakan dan perencanaan dokumen yang diperlukan perpustakaan agar dapat memberikan informasi yang sesuai dengan tugas yang diemban organisasi induknya. Yang juga termasuk dalam kebijakan pengembangan koleksi adalah: 

1) Kebijakan Seleksi yang terdiri dari prosedur tertulis mengenai seleksi,  alat-alat seleksi yang akan digunakan dan metode yang harus diikuti dalam menentukan materi atau bahan pustaka yang akan dibeli.

2) Kebijakan Pengadaan yang berisikan prosedur-prosedur yang harus dilakukan untuk memperoleh bahan pustaka.



Perlu diketahui dan diingat bahwa sebuah kebijakan adalah sebuah rencana. Sebuah kebijakan pengembangan koleksi, bila disiapkan dengan baik pada kenyataannya adalah rencana induk perpustakaan untuk membangun dan memelihara koleksinya. Koleksi itu merupakan salah satu unsur utama dalam pelayanan perpustakaan, sehingga mutu koleksi akan sangat berpengaruh terhadap mutu pelayanan perpustakaan. Untuk menjadikan perencanaan yang baik, kebijakan pengembangan koleksi haruslah merefleksikan dan menghubungkannya dengan rencana-rencana lain, terutama rencana jangka panjang dan strategis. 



Pengembangan koleksi adalah proses menghasilkan kepastian bahwa perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi dari populasi yang dilayaninya dalam cara yang tepat waktu dan ekonomis, menggunakan sumber daya informasi yang diproduksi di dalam maupun luar organisasi. Pengembangan koleksi yang efektif membutuhkan penciptaan sebuah rencana untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan koleksi dan memelihara kekuatan-kekuatannya. Sebuah kebijakan pengembangan koleksi adalah pernyataan tertulis dari rencana itu, yang memberikan rincian-rincian untuk pedoman staf perpustakaan. Jadi, sebuah pernyataan kebijakan adalah sebuah dokumen yang mewakili sebuah rencana  kerja dan informasi yang digunakan untuk membimbing cara berpikir staf dan pengambilan keputusan. Tegasnya, staf perpustakaan berkonsultasi dengan kebijakan pengembangan koleksi ketika mempertimbangkan subjek mana yang ditambah dan memutuskan seberapa banyak penekanan diberikan terhadap masing-masing subjek. Pada waktu yang sama, kebijakan itu seharusnya merupakan sebuah mekanisme untuk berkomunikasi dengan populasi yang dilayani perpustakaan, sebaik terhadap mereka yang memberikan dana kepada perpustakaan.



Apakah Anda punya pendapat atau pengalaman yang berkaitan dengan uraian di atas? Silahkan tulis dan kirim melalui halaman forum 1 sehingga dapat kita diskusikan bersama. Kami tunggu tanggapan Anda ! 

Inisiasi 2
Prinsip Seleksi  Bahan Pustaka
Hallo para mahasiswa...,Apakah inisiasi 1 sudah Anda baca? Tuton ini akan semakin seru bila Anda juga melempar komentar, pendapat atau pengalaman Anda sehingga bisa menjadi topik untuk ditanggapi oleh mahasiswa lain. Bagi Anda yang belum aktif dalam forum 1.., ayo silahkan ikut meramaikan diskusi pada forum 2 sehingga Anda dapat saling berbagi informasi dan bertukar wawasan yang akan bermanfaat bagi kita semua. Selamat belajar dan terus maju !!!
Berikut Saya sampaikan inisiasi 2 dengan topik Prinsip Seleksi  Bahan Pustaka

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi salah satu sebab terjadinya ledakan informasi, sehingga jumlah publikasi yang terbit dari waktu ke waktu tidak terhitung lagi jumlahnya. Disamping itu biaya produksi penerbitan bahan pustaka semakin tinggi, otomatis harga bahan pustaka juga makin meningkat. Oleh karena itu perlu dilakukan seleksi, agar dengan dana yang terbatas bisa diperoleh bahan pustaka yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna secara optimum.
Seleksi atau pemilihan menurut ALA Glossary of Library Terms adalah suatu proses pengambilan keputusan dalam mengidentifikasi sumber informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakai perpustakaan. Prinsip dalam pelaksanaan seleksi bahan pustaka dimaksudkan agar:
a)  Memperoleh dan menyediakan bahan pustaka yang diperlukan dalam menunjang sistem yang ada di lembaganya.
a) Memperoleh dan menyediakan bahan pustaka yang diinginkan oleh pengguna.
b) Memperoleh dan menyediakan bahan pustaka yang berisi bahan hiburan dan rekreasi.
c) Mengawetkan bahan pustaka penting yang menggambarkan perkembangan lembaga induknya, seperti laporan tahunan, data resmi, termasuk publikasi lembaga tersebut.
Ada beberapa pandangan dalam membangun suatu koleksi perpustakaan, yaitu:
1. Pandangan tradisional
Kelompok ini mengutamakan nilai intrinsik bahan pustaka, karena memandang perpustakaan sebagai tempat untuk melestarikan warisan budaya dan sarana mencerdaskan masyarakat. Bahan pustaka yang dinilai tidak bermutu tidak akan dipilih.
2. Pandangan liberal
Kelompok ini mengutamakan popularitas, dalam hal ini bahan pustaka tersebut diutamakan yang disukai dan banyak dibaca. Masalah mutu kalah penting dari popularitas, sehingga kelompok ini selalu mengikuti selera masyarakat.
3. Pandangan pluralistik
Kelompok ini mencoba untuk mencari keseimbangan antara pandangan tradisional dengan liberal.

Pada saat melakukan seleksi terdapat beberapa kriteria khusus yang perlu dipertimbangkan :
a) Judul disesuaikan dengan program lembaga yang ada
b) Judul disesuaikan dengan tingkatan pengguna
c) Pengarang sudah sangat terkenal di bidangnya (ahli/pakar)
d) Isi buku harus tahan lama, berbobot dan tidak cepat berubah
e) Penerbit cukup dikenal pada bidangnya
f) Tahun dan edisi terbaru
g) Harga buku cukup pantas
Pada umumnya perpustakaan memilih bahan pustaka yang baik sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Walaupun ada pihak-pihak yang berwenang untuk melakukan seleksi sesuai dengan jenis perpustakaan, kadang-kadang pustakawan harus proaktif melakukan seleksi awal dalam rangka membuat daftar bahan pustaka yang akan  diseleksi oleh pihak yang berwenang. Dengan adanya daftar tersebut pihak-pihak yang berwenang akan dipermudah untuk melaksanakan seleksi. Untuk itu personal yang bertanggung jawab melakukan seleksi awal perlu memahami pedoman dasar berikut ini:
1. Mengetahui berbagai jenis bahan pustaka yang ada di pasaran
2. Memahami tujuan dan fungsi perpustakaan tempat ia bekerja
3. Mengenal kebutuhan masyarakat yang dilayani
4. Mengenal prinsip-prinsip seleksi
5. Mengenal dan mampu menggunakan alat-alat bantu seleksi
6. Memahami berbagai kendala yang ada.

Inisiasi 3
Alat Bantu Seleksi Bahan Pustaka

Hallo para mahasiswa..,berikut saya sampaikan materi inisiasi 3 mengenai alat bantu seleksi, silahkan didiskusikan ya..

Untuk melakukan seleksi bahan pustaka pustakawan perlu mengenal dan mampu menggunakan alat bantu seleksi. Alat bantu seleksi dimaksudkan untuk :
a) memudahkan pemilihan bahan pustaka yang diperlukan
b) sebagai alat verifikasi dan identifikasi, yaitu sebagai acuan untuk mengetahui data bibliografi yang benar dan lengkap, seperti pengarang, judul, ISBN/ISSN, masih tersedia di pasaran atau tidak.
Ada berbagai jenis alat bantu yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu serta kelebihan dan kelemahannya. Secara garis besar alat bantu seleksi dapat dibagi atas dua kelompok:
1. Alat bantu seleksi
Yaitu alat bantu yang dapat membantu pustakawan untuk memutuskan apakah sebuah atau sekelompok bahan pustaka akan diseleksi, karena informasi yang diberikan dalam alat tersebut tidak terbatas pada data bibliografi, tetapi juga mencakup keterangan bahan pustaka tersebut dan keterangan lain yang diperlukan untuk mengambil keputusan. Informasi ini bisa diberikan dalam bentuk anotasi singkat saja, bisa berupa tinjauan (review) dengan panjang yang bervariasi.
Contoh alat bantu seleksi antara lain:
- majalah tinjauan buku/bahan pustaka lain                 
- daftar judul untuk jenis perpustakaan tertentu (core list), subjek tertentu atau kelompok tertentu.                                 
-    Indeks, misalnya Book Review Digest, Book Review Index, dan sebagainya.

2. Alat identifikasi dan verifikasi                         
Yaitu alat bantu seleksi yang hanya mencantumkan data bibliografi bahan pustaka (kadang-kadang dengan harganya). Alat seperti ini dipakai, untuk mengetahui judul yang telah terbit atau yang akan diterbitkan dalam bidang tertentu, dari pengarang atau penerbit tertentu, di negara tertentu atau dalam kurun waktu tertentu. Alat bantu ini dipakai untuk melakukan verifikasi, apakah judul atau nama pengarang tepat, berapa harganya, terbitan berseri atau bahan pandang dengar, masih ada di pasaran atau tidak, dan sebagainya.
Contoh alat identifikasi dan verifikasi adalah :
- katalog penerbit
- berbagai jenis bibliografi, misalnya bibliografi nasional, Books in Print
- katalog perpustakaan untuk mengetahui keberadaan bahan pustaka untuk subjek atau media tertentu.

Alat bantu seleksi yang sangat berperan dalam proses seleksi adalah tinjauan buku, hal ini disebabkan:                                     
1. Pustakawan tidak mungkin melihat sendiri semua judul baru untuk dievaluasi.
2. Jumlah buku dan bahan pustaka lain yang terbit setiap tahun terlalu banyak untuk dibaca dan dievaluasi.                               
3. Perpustakaan jarang yang mempunyai spesialis subjek dalam semua bidang subjek yang diwakili dalam koleksinya. Lewat tinjauan buku perpustakaan memperoleh penilaian dari pakar subjek.

Alat bantu seleksi juga perlu dievaluasi untuk menilai apakah cocok bila dipakai di tipe perpustakaan tertentu. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menilai alat bantu seleksi adalah:
1. Tujuan
- Apa tujuan alat bantu tersebut?
- Bantuan apa yang dapat diharapkan dari alat tersebut?
- Untuk siapa?
- Apakah informasi yang diberikan sesuai dengan tujuan?
- Apakah sesuai dengan kebutuhan kita?
2. Cakupan
- Apakah bahan pustaka dan subjek yang terdaftar sesuai dengan kebutuhan?
- Apakah cakupannya komprehensif?
- Berapa tinjauan yang dimuat tiap minggu, bulan, atau tahun?
3. Kecepatan
- Apakah daftar atau tinjauan buku terbit sebelum atau sesudah buku tersebut diterbitkan dan beredar
  di pasaran?
- Kalau sesudah, berapa lama? Berapa frekuensi terbitnya?
4.  Penulis tinjauan
    - Siapa yang menulis tinjauan?
    - Bagaimana kualifikasinya?
5.  Isi tinjauan
    Ada bermacam-macam jenis tinjauan yaitu:
    - hanya deskripsi isi atau ulasan yang kritis tetapi objektif.
    - membandingkan dengan karya lain yang serupa atau edisi sebelumnya.
    - memberi rekomendasi untuk tipe perpustakaan atau kelompok tertentu.
6.  Data bibliografi
    Data bibliografi apa yang diberikan dan cukup lengkapkah?
7.  Penyajian
    - Apakah jelas dan memudahkan pemakaian?
    - Ada berapa pendekatan?
    - Ada berapa macam indeks?
    - Apakah urutan informasi dalam tiap entri seragam?
8.  Kegunaan
    -  Dapat dipakai untuk apa? sebagai alat seleksi atau verifikasi, atau sumber rujukan?
    -  Dapat dipakai oleh siapa? Bagian rujukan, pengadaan, pengembangan koleksi, atau pemakai
        perpustakaan?
9.  Format fisik
    -  Apakah penjilidannya kuat?
    -  Apakah hurufnya tidak terlalu kecil?
    -  Bagaimana kualitas kertasnya?
10. Harga
      - Apakah harganya sebanding dengan isi dan kegunaannya?
      - Apakah ada alat serupa yang lebih murah?


Anda punya pendapat, komentar atau pengalaman seputar materi di atas ? Silahkan tulis pada forum 3 yang disediakan agar bisa kita diskusikan bersama. saya tunggu tanggapan Anda !!


Inisiasi 4
Kajian Pengguna Perpustakaan

Hallo para mahasiswa...,kali ini kita sudah sampai pada inisiasi ke 4. Berikut saya sampaikan materinya dan harap dibaca dan didiskusikan ya..

Untuk lebih meyakinkan tentang bahan pustaka apa yang dibutuhkan serta layanan apa yang diinginkan oleh masyarakat yang akan dilayani dalam lingkungan perpustakaan, perlu adanya suatu analisis terhadap masyarakat yang akan dilayani  tersebut. Dengan mengetahui kebutuhannya, maka kebijakan pengembangan koleksi yang akan dibuat semakin akurat, sesuai dengan tujuan setiap perpustakaan yaitu dapat menyediakan bahan pustaka yang tepat untuk pengguna yang tepat, dan dalam waktu yang tepat. Dalam rangka melakukan kajian tentang kebutuhan informasi pengguna perpustakaan tersebut perlu  ditentukan beberapa hal, seperti:
1) Siapa yang akan melakukan pengumpulan data?
2) Informasi apakah yang diinginkan oleh perpustakaan?
3) Bagaimana metodenya untuk menghasilkan informasi yang diinginkan?
4) Bagaimana memanfaatkan data itu?
Kajian pengguna ini bermanfaat sekali tetapi memakan waktu dan biaya yang besar. Untuk itu perlu perencanaan yang matang. Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam melaksanakan kajian adalah mengetahui data apa yang dibutuhkan oleh perpustakaan, langkah kedua adalah mengetahui bagaimana data itu diperoleh, dan langkah ketiga adalah bagaimana menganalisis data tersebut?

Setiap jenis perpustakaan melayani kelompok-kelompok pengguna dengan ciri-ciri tertentu, sehingga diperlukan perencanaan yang matang, jasa-jasa apa yang sesuai dengan kebutuhan pemakai tersebut. Perencanaan tersebut akan berhasil jika didasarkan atas pengetahuan yang cukup mendalam mengenai masyarakat yang harus dilayani.

Layanan-layanan perpustakaan, seperti juga koleksinya, haruslah didasarkan pada pengertian pada komunitas yang dilayani dan informasi yang diinginkan serta dibutuhkan. Pengetahuan akan komunitas yang dilayani adalah kunci untuk pengembangan koleksi yang efektif, yang akibatnya adalah juga pelayanan yang efektif. Sebenarnya tidak mungkin, dan juga tidak perlu, mengumpulkan informasi tentang semua aspek kehidupan dari pelanggan yang dilayani. Namun demikian, semakin banyak pustakawan pengembangan koleksi tahu tentang peran pekerjaan pelanggan, minat umum, pendidikan, perilaku informasi dan komunikasi, serta nilai-nilai dan karakteristik yang berkaitan dengan pelanggan, semakin mungkin bahwa koleksi perpustakaan mampu memberikan informasi yang diinginkan pada saat populasi yang dilayani membutuhkannya. Pada dasarnya kajian komunitas dapat dibagi dalam empat jenis pendekatan, yaitu:
1) pemberi informasi kunci
2) forum komunitas
3) indikator sosial
4) survei lapangan
Keempat pendekatan itu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perpustakaan bisa menggunakan semua pendekatan tersebut, baik secara tunggal maupun dikombinasikan, tergantung pada kebutuhan ataupun keadaan di lapangan. Namun, metodologi yang dikombinasikan merupakan pendekatan yang baik, karena dapat memastikan akan diperoleh data yang tidak bias. Pertanyaan paling penting yang diajukan setelah pelaksanaan kajian kebutuhan pengguna adalah: Apakah tujuan pelayanan perpustakaan yang sekarang ini sudah sesuai dengan tingkatan kebutuhan komunitas? Bila jawabannya belum, maka pastikan akan ada perubahan secara terencana.

Inisiasi 5
Terbitan berseri (dalam bahasa Inggris: serials) adalah istilah untuk setiap publikasi yang diterbitkan bagian demi bagian, tidak diterbitkan sekaligus, dengan memberikan tanda secara numerik atau kronologis, dan biasanya diterbitkan untuk masa waktu yang tidak tentu. Jadi suatu publikasi dapat digolongkan ke dalam jenis terbitan berseri bila diterbitkan secara berurutan, yang dinyatakan dengan volume, nomor atau bulan, serta tahun. Terbitan berseri diharapkan akan terbit terus dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.

Ada empat jenis utama terbitan berseri. Yang pertama adalah terbitan berkala dan surat kabar. Yang dimaksud dengan terbitan berkala adalah publikasi yang diterbitkan berkesinambungan dan diedarkan kepada publik setiap periode waktu tertentu. Terbitan berkala bisa diterbitkan setiap minggu (weekly), setiap bulan (monthly), dua bulan sekali (bimonthly), tiga bulan sekali (quarterly), setahun dua kali (semi annually), atau setahun sekali (annually).  Dikenal beberapa macam terbitan berkala, yaitu: Majalah (magazine), Warta (newsletter), Buletin, dan Jurnal (journal)
Surat kabar merupakan terbitan berkala yang diterbitkan setiap hari, isinya tidak dibatasi pada satu subjek tertentu, dan berisikan informasi atau berita mutakhir. Tujuan diterbitkannya surat kabar adalah untuk menyebarluaskan berita secara cepat dan tepat. Oleh karena itu surat kabar diterbitkan secara harian.

Jenis terbitan berseri yang kedua adalah publikasi yang diterbitkan secara berkelanjutan, atau berseri, tetapi tidak diterbitkan menurut kala waktu tertentu. Publikasi ini bisa berbentuk buku. Contoh buku berseri, misal judulnya:  "Dasar-dasar matematika" dengan judul serinya adalah "Seri Matematika untuk Universitas." Beberapa waktu kemudian, bisa beberapa bulan atau beberapa tahun, keluar lagi buku lain dari "Seri Matematika untuk Universitas" dengan judul buku yang berbeda. Demikian seterusnya, bisa saja diterbitkan buku seri fisika yang terdiri dari beberapa judul buku, dan sebagainya

Jenis terbitan berseri yang ketiga merupakan terbitan berupa bagian-bagian yang benar-benar terpisah, hanya untuk menyatakan urutan publikasi yang pernah diterbitkan dari badan/lembaga/instansi tertentu. Bisa juga sebuah instansi mempunyai beberapa proyek besar, dan setiap proyek menghasilkan publikasi. Untuk membedakan kelompok publikasi dari proyek tertentu dan untuk mengetahui banyaknya publikasi dari masing-masing proyek, maka setiap dikeluarkan laporan dari suatu proyek, publikasi tersebut diberi nomor urut dengan berbagai nomor kode proyek.    Beberapa dokumen yang dikeluarkan badan pemerintah mengambil bentuk seperti ini

Jenis terbitan yang keempat  adalah prosiding (dalam bahasa Inggris: proceeding) dan buku tahunan, yang dikeluarkan mungkin tahunan atau berkelanjutan, atau mungkin diterbitkan sebagai terbitan berseri yang dikeluarkan secara tidak berkala atau tidak tentu (irregular). Prosiding merupakan publikasi yang berisi materi yang disampaikan pada sebuah pertemuan baik yang berbentuk seminar, kongres, lokakarya, simposium, dan sebagainya. Isinya terdiri dari berbagai pidato yang disampaikan dan makalah-makalah, serta topik-topik yang didiskusikan dalam pertemuan itu



INISIASI 6
Bahan Pustaka Nonbuku

Pada awalnya dahulu perhatian perpustakaan lebih banyak dicurahkan pada bahan pustaka tercetak seperti buku dan terbitan berseri.  Adanya perkembangan teknologi di bidang media informasi, merupakan suatu tantangan bagi pustakawan untuk sanggup menangani bahan nonbuku.  Pustakawan wajib menerima tanggung jawab ini, karena mereka harus memikirkan pula hasil imajinasi, intelektual, dan semangat serta gagasan  manusia dalam berbagai bentuk, baik cetak maupun noncetak.

Penggunaan bahan nonbuku pada jaman dahulu hanya sebagai alat bantu pendidikan, tetapi sekarang tidak hanya sebagai alat bantu melainkan juga merupakan sarana kebutuhan individual yang mendasar.  Sebagai contoh penggunaan bahan nonbuku di sekolah dasar antara lain berupa alat peraga dalam pelajaran, misalnya penggunaan bola dunia untuk pelajaran ilmu bumi.  Di sekolah lanjutan menggunakan rekaman suara, video, atau penggunaan laboratorium bahasa. 

Di era digital dan virtual saat ini telah berkembang pula bahan pustaka dalam bentuk digital yang dikenal dengan e-books (electronic books), e-journals, yang sudah ditawarkan oleh beberapa provider maupun penerbit seperti OCLC (On-Line Computer Library Center), Elsevier, dan Oxford University Press, bahkan sebagian besar penerbit jurnal asing menawarkan jurnal on-line. 

Untuk itu perpustakaan perlu mendukung dengan cara melengkapi koleksinya dengan bahan nonbuku dalam segala bentuk dan jumlah yang cukup memadai.  Penyediaan bahan nonbuku memerlukan berbagai pendekatan yang berbeda dari penyediaan bahan pustaka tercetak yang konvensional.  Setiap media baik film, slide, video ataupun bahan lainnya memerlukan perlakuan yang berbeda.  Penyediaan bahan tersebut harus dipertimbangkan secara mendalam, dan disesuaikan  dengan kebutuhan pengguna.  Hal ini akan berhubungan dengan jenis perpustakaan, misalnya perpustakaan umum akan lebih banyak memerlukan jenis bahan pustaka gambar, peta, dan rekaman suara, sedangkan perpustakaan perguruan tinggi  lebih membutuhkan bahan pustaka digital seperti CD-ROM, selid dan sebagainya.

Di Indonesia bahan nonbuku belum dimanfaatkan secara maksimal.  Ada yang menganggap bahwa bahan nonbuku terutama bahan pandang dengar adalah sarana hiburan semata.  Hal ini merupakan suatu tantangan bagi pustakawan dalam menyediakan informasi dalam berbagai bentuk, karena tugas perpustakaan adalah memberikan informasi yang tepat, dalam waktu yang cepat kepada pengguna yang memerlukannya.  Pemanfaatan bahan nonbuku di beberapa perpustakaan di Indonesia, diantaranya adalah:
1) Perpustakaan Nasional, telah mengoleksi dokumen dalam bentuk mikro.  Tujuan awalnya adalah
untuk melestarikan dokumen yang hampir rusak.  Koleksi yang dimiliki Perpustakaan Nasional terdiri dari mikrofilm dan mikrofis, dan sebagai alat bantu bacanya disediakan microreader
2) PDII-LIPI (Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia),
memiliki koleksi bentuk mikro yang mencakup tesis, disertasi dan majalah Indonesia.Selain itu dengan adanya perkembangan teknologi sudah banyak perpustakaan yang mengoleksi bahan pustaka dalam bentuk elektronik seperti CD-ROM, ataupun jurnal elektronik.
3) Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Perpustakaan khusus, saat ini telah banyak menyediakan
bahan pustaka dalam bentuk digital seperti CD-ROM, e-book, e-journal, yang dikenal dengan e-collections, dan pada umumnya telah menyediakan layanan internet.
4) Perpustakaan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, telah melakukan pengembangan
koleksi disertasi dalam bentuk mikro mengenai bahasa dan sastra.  Disamping itu tersedia pula sejumlah bahan pandang dengar yang berupa pita-pita rekaman yang berisi informasi tulisan-tulisan ataupun buku-buku referensi beserta perlengkapannya.

Anda punya tanggapan, pendapat, komentar atau pengalaman yang berkaitan dengan materi di atas ?  Silahkan tulis pada forum 6 yang disediakan sehingga dapat kita diskusikan bersama. 
Saya tunggu tanggapan Anda.


Salam
Djaka W





INISIASI 7


Stock Opname

Stock opname secara harfiah merupakan suatu kegiatan penghitungan kembali koleksi bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan.  Secara lebih rinci, dari kegiatan ini dapat diketahui jumlah bahan pustaka menurut golongan ilmunya, dapat diketahuinya buku-buku yang hilang, dapat diperolehnya susunan buku yang rapih, juga diketahuinya kondisi fisik buku, apakah ada yang rusak / tidak lengkap.
Kegiatan ini sifatnya menyeluruh, dalam arti selain menyangkut fisik buku juga jajaran kartu katalognya, atau pun sarana temu kembali lainnya.  Dengan demikian diperlukan waktu yang cukup lama, agar tujuan di atas dapat dipenuhi.  Sebelum melakukan kegiatan stock opname, perlu dipertimbangkan dahulu apakah pelayanan kepada pengguna tetap diadakan dan kapan waktu yang tepat untuk melakukan stock opname, agar tidak mengganggu pelayanan yang disediakan oleh perpustakan kepada penggunanya.

Kegiatan stock opname bertujuan untuk:
1) Mengetahui dengan tepat profil koleksi perpustakaan
2) Mengetahui jumlah dokumen menurut klasifikasi dengan tepat
3) Menyediakan jajaran katalog yang tersusun rapi, yang mencerminkan kondisi dokumen.
4) Mengetahui dengan tepat dokumen yang tidak ada katalognya
5) Mengetahui dengan tepat dokumen yang dinyatakan hilang
6) Mengetahui dengan tepat kondisi dokumen, apakah dalam keadaan rusak atau tidak lengkap.

Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk melakukan stock opname, yaitu:
1) Menggunakan daftar pengadaan
2) Menggunakan daftar/registrasi yang berisi nomor induk
3) Menggunakan lembar lepas berisi nomor induk
4) Menggunakan kartu uji
5) Menghitung dokumen
6) Berdasarkan sampel / contoh
7) Dengan bantuan komputer
8) Shelf list


Anda punya pendapat, tanggapan, komentar, atau pengalaman yang berkaitan dengan materi di atas ? Silahkan tulis dan diskusikan pada forum 7 yang tersedia.


Pada sesi ini saya juga memberikan tugas yang harus Anda kerjakan. Silahkan lihat pada halaman tugas 3. Bila Anda mengerjakan tugas tersebut dan nilainya bagus akan dapat menaikkan nilai UAS semester ini.

Salam
Djaka W





Inisiasi 8

Hallo para peserta tuton sekalian ! tidak terasa kita sudah sampai pada inisiasi 8 yang merupakan inisiasi terakhir dari tuton ini. Berikut saya sampaikan materi inisiasi 8, silahkan dibaca dan didiskusikan.

Perawatan dan Pelestarian Bahan Pustaka

Perawatan dan pelestarian bahan pustaka bukanlah hal baru bagi sebuah perpustakaan. Hal itu telah menjadi perhatian pustakawan sejak ribuan tahun yang lalu.  Koleksi bahan pustaka perlu dirawat dan dilestarikan untuk mewariskan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkandung di dalam koleksi itu ke generasi yang akan datang. Namun demikian tugas perawatan dan pelestarian tersebut bukanlah tugas yang mudah. Sejak zaman purba pustakawan telah menemukan musuh bahan pustaka berupa cacing buku, rayap, kecoak, dan berbagai jenis kutu lainnya. Sebagai contoh, kutu buku, rayap, dan kecoak telah merusak adibuku (masterpiece) sastra Yunani dan Roma

Perawatan dan pelestarian bahan pustaka dilakukan dengan tujuan melestarikan kandungan informasi bahan pustaka.  Pada dasarnya perawatan dan pelestarian itu bisa dilakukan dengan alih bentuk menggunakan media lain, atau melestarikan bentuk aslinya selengkap mungkin. Perawatan dan pelestarian bahan pustaka meliputi kegiatan : reproduksi bahan pustaka, penjilidan dan laminasi, dan pencegahan faktor-faktor perusak koleksi. Indonesia sebagai daerah tropis memiliki berbagai musuh buku. Secara garis besar, ada tiga faktor utama penyebab kerusakan bahan pustaka, yaitu faktor fisik atau mekanis, faktor kimiawi atau iklim, dan faktor hayati. Perlu diingat bahwa mencegah itu lebih murah daripada memperbaiki yang sudah rusak.

Perawatan dan pelestarian bahan pustaka di Indonesia masih mengalami berbagai kendala, seperti kurangnya tenaga pelestarian, belum adanya lembaga pendidikan yang mengkhususkan diri pada bidang keahlian ini, dan belum jelasnya tingkat pendidikan yang dibutuhkan untuk keahlian ini.  Disamping itu banyak pimpinan serta pemegang kebijakan belum memahami pentingnya pelestarian bahan pustaka, sehingga mengakibatkan kurangnya dana, perhatian, dan fasilitas yang tersedia. Setiap kegiatan perawatan dan pelestarian bahan pustaka itu dilakukan dan disesuaikan pada suatu kondisi tertentu, tergantung pada keadaan bahan pustaka itu sendiri dan keadaan perpustakaan.


Bila Anda punya pendapat, komentar, tanggapan, atau mungkin pengalaman yang berkaitan dengan materi inisiasi di atas, silahkan tulis dan diskusikan pada forum 8.

Salam
Djaka W


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar